NOVEL · Indonesia
Cheng Ning dan Xu Nan hanya bertemu di toko roti pada pagi buta, yang satu sibuk mengeluarkan roti dari oven, yang lain sibuk bersiap berangkat; lama-kelamaan pertengkaran pun hanya bisa ditulis di catatan pesanan. Sebuah pesanan yang salah kirim membuat kata-kata pribadi nyaris jatuh ke tangan pelanggan, barulah mereka menyadari bahwa komunikasi seperti ini tidak lagi cukup. Keduanya menetapkan satu jam khusus setiap minggu setelah toko tutup untuk membicarakan kehidupan, mengembalikan nota kerja untuk urusan pekerjaan, dan memberi ruang berupa kalimat utuh bagi perasaan mereka.
Story preview · Full chapters are not available for this title yet.
NOVEL · Indonesia
Setelah bertransmigrasi, Su Chen mendapati dirinya berada di Benua Cangxuan, sebuah dunia tempat para kultivator berebut sumber daya dan manusia biasa sulit melindungi diri. Identitas yang diperolehnya hanyalah seorang k
Explore this story ↗NOVEL · Indonesia
Setelah tujuh pahlawan wafat, keturunan mereka mendirikan kuil di tempat penyegelan pedang siluman, yang dijaga turun-temurun oleh para miko. Selama seribu tahun, meski terkadang ada gangguan siluman dan iblis, dunia man
Explore this story ↗NOVEL · Indonesia
"Kisah Sampingan Dewi Siaran Langsung: Terobosan" melanjutkan tokoh-tokoh seperti Jiang Ruoxue dan Liu Jingyao dari karya Shizigui. Liu Jingyao mencurahkan diri dalam operasional perusahaan siaran langsung dan mendapati
Explore this story ↗NOVEL · Indonesia
Gu Qiao adalah manajer operasional di Chengshi Co., Ltd. dan telah bekerja di perusahaan tersebut selama dua puluh empat tahun. Promosi di masa-masa awal sempat membuatnya yakin masa depannya akan lancar, namun setelah i
Explore this story ↗NOVEL · Indonesia
Shen Wei mengundang Jiang Ce untuk duduk di bangku tepi laut mendengarkan rekaman suara angin yang dirapikannya, tetapi Jiang Ce justru membawa rekaman kebisingan kapal; pemahaman yang berbeda membuat pertemuan ini sedik
Explore this story ↗NOVEL · Indonesia
Lin Zhi mengundang He Yu untuk membacakan narasi film bisu di sebuah bioskop tua, namun He Yu ingin mempertahankan ruang kosong visual tersebut dan enggan mengartikan setiap gerakan menjadi emosi yang pasti. Ia awalnya k
Explore this story ↗